UU Nomor 13 Tahun 2003,Tentang Ketenagakerjaan;Diterapkan oleh Perusahaan atau Belum…??

Mengambil judul ini berdasarkan pada realita ketika berada bersama,mendengar,dan menyaksikan langsung nasib para pekerja sawit di wilayah Kalimantan Timur.Perusahan perkebunan kelapa sawit tersebar banyak di wilayah Kalimantan Timur.Perusahan perkebunan dengan nama besar seperti Agro,Sinar Mas group,Astra,Mina Mas Group,Guta Samba,Telend,dan masih banyak lagi perusahaan perkebunan sawit yang beroperasi.Sistem manajemen perusahaan juga berbeda terhadap pekerjaan dan nasib pekerja sawit.Hal ini terlihat dari pemberlakuan jam kerja,pembagian tugas kerja,mes para pekerja,sistem perhitungan premi,pemberlakuan cuti dan izinkan,yang bermuara pada upah yang mesti di terima para pekerja sawit.Perusahaan-perusahan dimaksud sangat alergi terhadap media, aliansi ,serikat ataupun organisasi persatuan buruh yang menjadi corong/media keluhan bagi pekerja sawit.Manajemen tertutup dibangun begitu rapi dengan sistem menutup seluruh pintu masuk apakah itu wartawan,pihak pemerintah setempat,aparat keamanan,sehingga jika ada ketidakpuasan atas nasib dan sistem upah, para pekerja tak bisa menyampaikan atau melapor karena tetap tidak diproses.”Kami tidak tahu ada SBSI,SPSI,Organisasi Buruh,atau apapun.Kami tidak puas atas upah kami,potongan BPJS,perhitungan basis,premi,cuti dan izinan yang tidak perna dijelaskan kepada kami,kami protes tapi kami diancam dikeluarkan.Kami diam saja.Kami tidak perna tahu ada perjanjian kontrak kerja,ada SKU-H,SKU-B,KHL sebab memang itu tidak diberitahu.Kami cuma disuruh kerja,pagi kumpul(lingkar) dengar penjelasan mandor atau kadang oleh Asisten hari ini di blok apa saja,itu saja.”Keluhan dari pekerja sawit.Fenomena penerapan manajemen demikian merata pada perusahan-perusahan sawit di wilayah Kalimantan Timur.Jika demikian,berarti UU Nomor 13 Tahun 2003,hanyalah sesuatu yang tertulis tapi praktek dan implementasinya nol bagi perusahan perkebunan sawit.Apalagi rancangan UU Omnibus Law,yang masih diperdebatkan,bisa saja memperkuat manajemen dan sistem tertutup yang dibangun perusahan perkebunan sawit selama ini.Sengaja saya menulis ini agar bisa menggugah para pengambil kebijakan,menggugah hati para Wakil Rakyat,menggugah ketua serikat pekerja seluruh Indonesia,Menggugah ketua serikat buruh seluruh Indonesia,untuk sedikit menengok akan realita lapangan yang ada di setiap perusahan perkebunan sawit di Indonesia,khususnya di Kalimantan Timur.Para insan pers di wilayah Kalimantan Timur juga mesti berani dan vulgar menulis tentang fakta dan realita lapangan,dengan sedikit meluangkan waktu mendengar cerita dan keluhan para pekerja sawit.Pemerintah saat ini bapak Presiden Joko Widodo dan Bapak Wakil Presiden Maruf Amin,adalah pemimpin pro rakyat,pemimpin yang merakyat dan sangat peduli terhadap nasib rakyat termasuk nasib para pekerja sawit.Mari kita bersama,memperjuangkan nasib para buruh kita khususnya nasib pekerja sawit,demi menuju kesejahteraan rakyat dan kesejahteraan bangsa Indonesia tercinta ini.Red.

Tersisih Dari Gemarlapnya Kemajuan.

Ketika sebagian besar masyarakat menikmati kemajuan dengan perkembangan zaman yang kian pesat,jauh dari keramaian dan kegemerlapan,masih terdapat sejumlah keluarga yang hidup susah dan merana.Bahkan kebutuhan dasar seperti sandang,pangan dan papan belum layak sebagaimana kategori masyarakat petani pada umumnya.Hidup bersama istri di gubuk reyot,ukuran 3×4 meter,sungguh miris dan sedih.Mereka tidak tersentuh yang namanya pembangunan,bantuan atau apapun sebagaimana program yang didengungkan dan dijalankan selama ini.Tapi siapa yang peduli.Pemerintah setempat juga tidak perna menghiraukan sama sekali.Real dan nyata kisah hidup dan kesengsaraan mereka.Red.